Minggu, 03 Oktober 2021

Huru-Hara

Di satu rumah kontrakan tepat di sudut ruangan tamu, tampak sosok wanita duduk sembari bercengkerama dengan dosen dan teman-temannya melalui zoom. Rambut sebahu, memakai baju hitam dan celana yang sepadan dengan bajunya. Gelak tawa bersama Dosen dan teman-temannya sayup-sayup terdengar. Tawanya yang terbahak-bahak membuat tetangga disekelilingnya ikut tertawa. Sosok wanita itu bernama Elenna.


Ketika awal masuk kuliah, ia tidak ikut dalam organisasi baik internal maupun eksternal kampus. Ia tidak begitu tertarik dengan jurusan yang saat ini sedang dijalaninya. Kesukaan pada pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia membuatnya menginginkan wadah yang tepat untuk dijalaninya selama empat tahun kedepan.


Namun, penolakan kampus-kampus negeri dengan jurusan yang diminatinya membuatnya memaksakan diri berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi yang berlawanan dengan kemampuannya. Tak begitu mampu berkomunikasi dengan baik membuatnya pesimis dalam perkuliahan.Puji Tuhan, setidaknya disini ia bisa meringankan beban orang tua dengan mengikuti program beasiswa.


Dipikirannya saat itu jurusan komunikasi memiliki kemiripan dengan sastra yang dimana ia sangat gila dengan menulis, juga ia memilih jurusan yang ia rasa menarik untuk ditantang karena kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. Namun, ia adalah sosok yang suka berteman dengan siapa saja. Ia menantang dirinya masuk di Jurusan Ilmu Komunikasi agar kelak setelah tamat, ia mampu berkomunikasi dengan baik dan bisa menjadi seorang penulis seperti yang ia dambakan.


Demi mengatasi keterbatasannya itu, iapun memutuskan untuk tidak sekedar kuliah. Ia mulai aktif dalam organisasi eksternal kampus dan ia juga aktif mengikuti berbagai acara dan kegiatan yang menurutnya bisa menjadikannya pandai dalam berkomunikasi. Keikutsertaannya dalam berbagai rangkaian acara organisasi memaksanya untuk berkomunikasi. Perlahan-lahan ia bisa berkomunikasi meski belum begitu tepat namun ia sudah mampu berbicara di depan orang banyak. 


Pelajaran-pelajaran yang dijalaninya dalam mata kuliah Ilmu Komunikasi memaksanya untuk bisa dan mampu dalam menjalaninya. Hingga membuatnya kini tak begitu malu seperti dulu saat ia masih duduk di bangku SMA. Usahanya untuk berani berkomunikasi dan menulis semoga berhasil. Berharap, kelak ia mampu menjadi sosok wanita yang mampu berkomunikasi dengan baik didepan umum dan menjadi seorang penulis seperti yang ia cita-citakan sejak awal kuliah.









Gengsi

  Gengsi Dia bisa abadi Tergantung sang pemeluknya Yah dia, dia!!! Satu arogansi yang mematikan kesederhanaan Membutakan nurani Me...