Jumat, 17 September 2021

Morat-Marit

 

Kertas putih bergaris kuning

Sentakkan kaki mengagetkan pikiran

Logika dan perasaan dipintal

Tangannya mulai bergetar

Pena yang dipegang bertinta hijau

Dia merajut diatasnya

Pikiran tak terarah, tetap melaju

Gonggongan anjing melolong

Lantunan nadanya berbau  hinaan

Aromanya mengawang

Mengemis untuk di hargai

Huh…

Menyesakkan dada

Tenang dipeluknya

Diam untuk menang.

 

 

 

 

Pontianak, 22 agustus 2021

10:08

 

Senin, 13 September 2021

Ibu


Kau wanita tangguhku

Bekerja dari terbitnya fajar hingga terbenam

Kau setia jadi ayah juga ibu bagiku,

Walaupun keringat menjadi selimut terhangatmu.

Aku melihat cantikmu kini Nampak tua.

Tapi semangat itu selalu melekat dengan ragamu

Raga yang mulai memberontak namun kau menenangkannya demi aku.

Tetap memelukku padahal kau kedinginan.

Tamparan kehidupan selalu kau terima

Senyuman manis adalah balasannya

Suara khasmu yang terasa merdu didengarkan.

Berjalanpun seperti alunan senandung nada.

Bagai matahari turun dibalik gunung.

Cahayanya kuning menjadi merah lalu menjadi ungu lembayung

Penuh bayang-bayang kelam masa lalu

Namun kau tetap sigap menyambut fajar pagi demi aku, kamu dan kita.

Selamat hari ibu…

JEJAK LANGKAH

 


Tiupan angin malam menyapa keheningan

Seakan nurani diketuk

Membawakan kembali aroma perjuangan

Suasana gemerlap  duniawi

Hamparan kenyataan berbaris dihadapan

Menampilkan abjad persoalan

Ahhh!!!

Kau seakan-akan mahluk paling benar

Niat dipatahkan,

perkataan diasah

Berharap lida bisa diatasi

Kembali berserah,

Tuhan Maha Pemberi jalan.

 

 

 

Nanga Pinoh, 13 september 2021

 

Gengsi

  Gengsi Dia bisa abadi Tergantung sang pemeluknya Yah dia, dia!!! Satu arogansi yang mematikan kesederhanaan Membutakan nurani Me...