Sabtu, 04 Desember 2021

Gengsi

 

Gengsi

Dia bisa abadi

Tergantung sang pemeluknya

Yah dia, dia!!!

Satu arogansi yang mematikan kesederhanaan

Membutakan nurani

Melupakan kenyataan

Padahalnya itu tidak lebih daripada membunuh

Merobek batin, menggilas pandangan yang baik

Semakin dekat kau peluk semuanya

Semakin dahsyat kau dekatkan segalanya

Kau lari dari rasa  kejujuranmu

Bercerminlah…

Kau tengah berjalan diatas kepalsuan

 Kau telah dipasung oleh gengsimu

Suatu saat akan ada hari

Dan kau akan menyesal

 

Desember

Desember

awal dari akhir telah dimulai,
memang ada banyak hal yang belum terselesaikan,
memang terdapat perjalanan yang belum sampai.
namun saya tidak perlu kecewa atau merasa bersalah
karena acapkali hal-hal terindah
meski tidak terjadi sesuai asumsi dan asa
selama saya yakin dan berusaha tidak kenal lelah
selama saya berdoa dan berserah
seluruh akan terjadi pada waktu,
lewat jalan dan menggunakan paket yang indah 
mungkin nan sempurna.

 

Minggu, 03 Oktober 2021

Huru-Hara

Di satu rumah kontrakan tepat di sudut ruangan tamu, tampak sosok wanita duduk sembari bercengkerama dengan dosen dan teman-temannya melalui zoom. Rambut sebahu, memakai baju hitam dan celana yang sepadan dengan bajunya. Gelak tawa bersama Dosen dan teman-temannya sayup-sayup terdengar. Tawanya yang terbahak-bahak membuat tetangga disekelilingnya ikut tertawa. Sosok wanita itu bernama Elenna.


Ketika awal masuk kuliah, ia tidak ikut dalam organisasi baik internal maupun eksternal kampus. Ia tidak begitu tertarik dengan jurusan yang saat ini sedang dijalaninya. Kesukaan pada pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia membuatnya menginginkan wadah yang tepat untuk dijalaninya selama empat tahun kedepan.


Namun, penolakan kampus-kampus negeri dengan jurusan yang diminatinya membuatnya memaksakan diri berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi yang berlawanan dengan kemampuannya. Tak begitu mampu berkomunikasi dengan baik membuatnya pesimis dalam perkuliahan.Puji Tuhan, setidaknya disini ia bisa meringankan beban orang tua dengan mengikuti program beasiswa.


Dipikirannya saat itu jurusan komunikasi memiliki kemiripan dengan sastra yang dimana ia sangat gila dengan menulis, juga ia memilih jurusan yang ia rasa menarik untuk ditantang karena kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. Namun, ia adalah sosok yang suka berteman dengan siapa saja. Ia menantang dirinya masuk di Jurusan Ilmu Komunikasi agar kelak setelah tamat, ia mampu berkomunikasi dengan baik dan bisa menjadi seorang penulis seperti yang ia dambakan.


Demi mengatasi keterbatasannya itu, iapun memutuskan untuk tidak sekedar kuliah. Ia mulai aktif dalam organisasi eksternal kampus dan ia juga aktif mengikuti berbagai acara dan kegiatan yang menurutnya bisa menjadikannya pandai dalam berkomunikasi. Keikutsertaannya dalam berbagai rangkaian acara organisasi memaksanya untuk berkomunikasi. Perlahan-lahan ia bisa berkomunikasi meski belum begitu tepat namun ia sudah mampu berbicara di depan orang banyak. 


Pelajaran-pelajaran yang dijalaninya dalam mata kuliah Ilmu Komunikasi memaksanya untuk bisa dan mampu dalam menjalaninya. Hingga membuatnya kini tak begitu malu seperti dulu saat ia masih duduk di bangku SMA. Usahanya untuk berani berkomunikasi dan menulis semoga berhasil. Berharap, kelak ia mampu menjadi sosok wanita yang mampu berkomunikasi dengan baik didepan umum dan menjadi seorang penulis seperti yang ia cita-citakan sejak awal kuliah.









Jumat, 17 September 2021

Morat-Marit

 

Kertas putih bergaris kuning

Sentakkan kaki mengagetkan pikiran

Logika dan perasaan dipintal

Tangannya mulai bergetar

Pena yang dipegang bertinta hijau

Dia merajut diatasnya

Pikiran tak terarah, tetap melaju

Gonggongan anjing melolong

Lantunan nadanya berbau  hinaan

Aromanya mengawang

Mengemis untuk di hargai

Huh…

Menyesakkan dada

Tenang dipeluknya

Diam untuk menang.

 

 

 

 

Pontianak, 22 agustus 2021

10:08

 

Senin, 13 September 2021

Ibu


Kau wanita tangguhku

Bekerja dari terbitnya fajar hingga terbenam

Kau setia jadi ayah juga ibu bagiku,

Walaupun keringat menjadi selimut terhangatmu.

Aku melihat cantikmu kini Nampak tua.

Tapi semangat itu selalu melekat dengan ragamu

Raga yang mulai memberontak namun kau menenangkannya demi aku.

Tetap memelukku padahal kau kedinginan.

Tamparan kehidupan selalu kau terima

Senyuman manis adalah balasannya

Suara khasmu yang terasa merdu didengarkan.

Berjalanpun seperti alunan senandung nada.

Bagai matahari turun dibalik gunung.

Cahayanya kuning menjadi merah lalu menjadi ungu lembayung

Penuh bayang-bayang kelam masa lalu

Namun kau tetap sigap menyambut fajar pagi demi aku, kamu dan kita.

Selamat hari ibu…

JEJAK LANGKAH

 


Tiupan angin malam menyapa keheningan

Seakan nurani diketuk

Membawakan kembali aroma perjuangan

Suasana gemerlap  duniawi

Hamparan kenyataan berbaris dihadapan

Menampilkan abjad persoalan

Ahhh!!!

Kau seakan-akan mahluk paling benar

Niat dipatahkan,

perkataan diasah

Berharap lida bisa diatasi

Kembali berserah,

Tuhan Maha Pemberi jalan.

 

 

 

Nanga Pinoh, 13 september 2021

 

Jumat, 25 Desember 2020

Direnggut Paksa Oleh Takdir

Tiga belas Juni dua ribu enam belas, kosong enam kosong-kosong. Saat itu aku tak berdaya,saat air mata akhirnya berdiri pada garis awal lukaku...

Semua rasa bahagia ikut terhempas, tak tahan pada titik hitam sebuah kenangan ... Perih itu semakin subur dibasahi oleh setiap lamunan kenangan masa lampau yang menyakitkanku, dan aku kian berontak...

Semua kepedihan ramaikan hidupku. Lalu dengan nekatnya aku berteriak kepada-Mu.
Mereka bilang ketika Kau mengambil sesuatu yang berharga dalam hidup seseorang, Kau akan menggantikannya dengan yang lebih baik menurut-Mu..
Lalu ada di mana janji-Mu...
Kau membuai aku mengacuh, menepi perlahan, lalu hilang dari-.Mu...
Hatiku tak hidup, setiap degupan begitu menyayat hati. Kata cinta seolah tak membekas di dalam relung-relung. Aku menutup semua tempat untuk itu. Tersisa? Tidak ada yang tersisa...
Yang ada hanya belantara ditengah buasnya kesakitan rinduku yang menganga...
Tawa , suara dan gema seolah sudah tak tumbuh di dalam langkah terakhirku sejak lelaki berharga, dia yang adalah hartaku direnggut.
Isakkan itu seolah tetap mengakar di dalam ragaku. Mengikat dan tak mau mengelupas oleh detakan waktu. Jika aku adalah debu, mungkin sudah hilang dibawa angin dan tak sanggup hadir lagi. Seutas perih yang tetap tersisa itu, membuatku tak mampu melangkah meninggalkan tiap tiap kenangannya.
Yang dahulu dulu temani separuh diriku. Mencoba menyumbat telinga
Agar tak ku dengar lagi bunyi sirene, yang turut membawa separuh jiwaku pergi. Bintang itu lenyap ditelan mendungnya langit, sebendung hatiku.
Ahh Ayah.
Bahagia di sorga cinta pertamaku.

Gengsi

  Gengsi Dia bisa abadi Tergantung sang pemeluknya Yah dia, dia!!! Satu arogansi yang mematikan kesederhanaan Membutakan nurani Me...