Tiga belas Juni dua ribu enam belas, kosong enam kosong-kosong. Saat itu aku tak berdaya,saat air mata akhirnya berdiri pada garis awal lukaku...
Semua rasa bahagia ikut terhempas, tak tahan pada titik hitam sebuah kenangan ... Perih itu semakin subur dibasahi oleh setiap lamunan kenangan masa lampau yang menyakitkanku, dan aku kian berontak...
Semua kepedihan ramaikan hidupku. Lalu dengan nekatnya aku berteriak kepada-Mu.
Mereka bilang ketika Kau mengambil sesuatu yang berharga dalam hidup seseorang, Kau akan menggantikannya dengan yang lebih baik menurut-Mu..
Lalu ada di mana janji-Mu...
Kau membuai aku mengacuh, menepi perlahan, lalu hilang dari-.Mu...
Hatiku tak hidup, setiap degupan begitu menyayat hati. Kata cinta seolah tak membekas di dalam relung-relung. Aku menutup semua tempat untuk itu. Tersisa? Tidak ada yang tersisa...
Yang ada hanya belantara ditengah buasnya kesakitan rinduku yang menganga...
Tawa , suara dan gema seolah sudah tak tumbuh di dalam langkah terakhirku sejak lelaki berharga, dia yang adalah hartaku direnggut.
Isakkan itu seolah tetap mengakar di dalam ragaku. Mengikat dan tak mau mengelupas oleh detakan waktu. Jika aku adalah debu, mungkin sudah hilang dibawa angin dan tak sanggup hadir lagi. Seutas perih yang tetap tersisa itu, membuatku tak mampu melangkah meninggalkan tiap tiap kenangannya.
Yang dahulu dulu temani separuh diriku. Mencoba menyumbat telinga
Agar tak ku dengar lagi bunyi sirene, yang turut membawa separuh jiwaku pergi. Bintang itu lenyap ditelan mendungnya langit, sebendung hatiku.
Ahh Ayah.
Bahagia di sorga cinta pertamaku.