Senin, 13 September 2021

Ibu


Kau wanita tangguhku

Bekerja dari terbitnya fajar hingga terbenam

Kau setia jadi ayah juga ibu bagiku,

Walaupun keringat menjadi selimut terhangatmu.

Aku melihat cantikmu kini Nampak tua.

Tapi semangat itu selalu melekat dengan ragamu

Raga yang mulai memberontak namun kau menenangkannya demi aku.

Tetap memelukku padahal kau kedinginan.

Tamparan kehidupan selalu kau terima

Senyuman manis adalah balasannya

Suara khasmu yang terasa merdu didengarkan.

Berjalanpun seperti alunan senandung nada.

Bagai matahari turun dibalik gunung.

Cahayanya kuning menjadi merah lalu menjadi ungu lembayung

Penuh bayang-bayang kelam masa lalu

Namun kau tetap sigap menyambut fajar pagi demi aku, kamu dan kita.

Selamat hari ibu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gengsi

  Gengsi Dia bisa abadi Tergantung sang pemeluknya Yah dia, dia!!! Satu arogansi yang mematikan kesederhanaan Membutakan nurani Me...